Yesus Kristus Perantara Sejati – Bagian I

Yesus Kristus Perantara Sejati
Nats: Yohanes 1:1-18.
Pdt. Joni Stephen

Pendahuluan

Injil Yohanes menggambarkan Yesus sebagai Firman Allah, sabda Allah, yang benar-benar Allah, datang ke dunia ini.

Mari kita membaca Injil Yohanes pasal 1,
ayat 1:Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. 2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. 3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. 4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. 5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. 6 Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; 7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. 8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. 9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.
10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. 11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; 13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.
14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. 15 Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: ”Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” 16 Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; 17 sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.
18 Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Apakah sesungguhnya artinya Yesus Kristus bagi kehidupan kita?

Ayat 14 “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.”

Yesus Kristus yang sesungguhnya adalah firman Allah menjadi daging, lahir dalam kelemahan sebagai manusia sejati.

Itulah Yesus Kristus, ”Firman Allah telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.”

Mengapa Allah menjadi manusia?, Mengapa Allah mengutus terang itu ke dalam kegelapan? Mengapa sang Pencipta dunia datang ke dunia yang diciptakan-Nya, seperti dicatat dalam ayat 10-11, walaupun dunia tidak mau mengenal atau menerima Dia?

Sebenarnya Allah yang membangun sebuah jembatan atau perantara, di mana Allah mengundang kita untuk masuk ke dalam keluarga-Nya. Lihat ayat 12-13. Rencana Allah ialah bahwa mereka yang percaya kepada Yesus, yang menerima Dia dalam hidupnya, menjadi anak-anak Allah. Jika kita ingin menjadi anggota keluarga Allah, kita harus menyeberangi sebuah jurang yang tak mungkin diseberangi manusia dengan kekuatannya sendiri. Kita perlu sebuah jembatan, dan Allah telah menyediakan perantara yaitu Yesus Kristus.

Pada kesempatan ini, saya ingin kita merenungkan perantara ini yang membantu kita dalam tiga cara.

Yang pertama, Yesus adalah perantara pembukaan.
Dia adalah perantara yang memungkinkan kita melihat sesuatu yang dulunya tersembunyi.

Yang kedua, Yesus adalah perantara kasih sayang.
Dia adalah jembatan yang membuat kita bisa menerima rahmat dan kasih Allah.

Yang ketiga, Yesus adalah perantara perdamaian.
Dia adalah jembatan yang memungkinkan rekonsiliasi dua pihak yang bermusuhan.

Kita akan memikirkan tiga hal yang dikerjakan Yesus Kristus,

Yang pertama, kelahiran Yesus merupakan sebuah pernyataan Allah.
Injil Yohanes pasal 1, ayat 18 “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”

Suatu pagi pada bulan September, tahun 1802, penyair terkenal Inggris, William Wordsworth, menceritakan tentang berdirinya Jembatan di samping Gedung Parlemen Westminster di London, dan melihat pemandangan yang indah. Dia menulis sebuah puisi untuk memperingati yang dilihatnya.
The beauty of the morning: silent, bare,
Ships, towers, domes, theatres, and temples lie
Open unto the fields, and to the sky;
All bright and glittering in the smokeless air.”

Indahnya pagi: sunyi, kosong,
kapal, menara, kubah, teater, dan kuil terhampar
Terbuka pada ladang, dan pada langit
Semuanya cerah dan berkilauan dalam udara jernih.”

Setelah menyeberangi Jembatan Westminster, Wordsworth menemukan sebuah pemandangan baru. Jika jembatan itu tidak ada, mustahil Wordsworth bisa melihat keindahan kota London seperti dilihatnya pagi itu.

Seperti itu juga, Yesus adalah perantara yang menunjukkan Allah kepada kita dengan cara yang belum pernah diketahui sebelumnya.
Injil Yohanes pasal 1, ayat 18 berkata “Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Yesus menyatakan Allah kepada kita. Yesus Kristus memberi kita sebuah pandangan baru akan Allah, sesuatu yang dulu tidak mungkin.

Pada zaman Perjanjian Lama, manusia tidak bisa melihat Allah dan tetap hidup. Karena setiap orang berdosa, maka kita tidak dapat memandang Allah secara langsung tanpa binasa karena kesucian mutlakNya. Seperti ngengat yang menghampiri api, kekudusan Allah membinasakan manusia berdosa.

Ketika Musa memimpin orang Israel keluar dari perbudakan di Mesir dan membawa mereka ke padang gurun Sinai, Musa bertemu dengan Allah. Namun Musa, pemimpin terpilih dan penyelamat umat Allah tidak diizinkan memandang Allah secara langsung. Musa meminta “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku,” akan tetapi dia hanya boleh melihat bagian belakang kemuliaan Allah ketika Allah melintas. [Kel 33:18,21-23]

Terkadang kita mendengar orang yang skeptis tentang Allah berkata, “Jika Allah menyatakan diri kepadaku, baru aku mau percaya.” Kerinduan hati manusia ialah terhubung dengan Allah, untuk menemukan makna tertinggi dari hidup ini, yang lebih agung daripada kemakmuran atau kesenangan. Bukannya meninggalkan kita di dalam kegelapan, Allah justru telah bertindak.

Jika kita ingin mengenal seseorang, jika kita ingin tahu bagaimana seseorang berpikir atau merasa, tetapi tidak bisa secara langsung mewawancarai mereka; pastinya kita akan mencari yang dekat dengan orang itu yang pernah hidup bersamanya mereka dan mengenalnya dengan baik. Injil Yohanes pasal 1, ayat 1-2 memberitahu kita bahwa Firman Allah, yaitu Yesus, telah bersama-sama dengan Allah sejak mulanya. Dia memiliki hubungan dekat dengan Allah Bapa karena Dia adalah Anak Allah. Jika kita ingin mengetahui hati Allah, pikiran Allah, rencana Allah – kita dapat melihat itu diperankan dan dijelmakan dalam Yesus sendiri.

Yohanes 1, ayat 18 “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.“
Kata yang dipakai oleh Yohanes untuk menyatakan-Nya ialah exegesato. Yang berasal dari akar kata exegese, sebuah kata yang sangat familiar dengan ahli Alkitab, karena tugas mereka ialah eksegese, yaitu, menjelaskan atau menguraikan makna dari sebuah perikop firman Tuhan. Yesus menjelaskan Allah kepada kita. Yesus ialah khotbah yang hidup dari Allah kepada kita.

Dalam Injil Yohanes pasal 14, setelah Yesus bersama para murid selama bertahun-tahun, dia pamitan. Yesus berkata bahwa dia akan ke rumah Bapa untuk menyiapkan tempat bagi mereka. Karena dia ke sana lebih dahulu, dia bisa membawa mereka ke rumah Bapa itu. Tetapi Thomas, salah satu muridNya, bingung. (ayat 5) ”Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”
Yesus menjawab dengan penyataan terkenal, Yohanes 14, ayat 6-7 ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”

Lalu Filipus masuk dan berkata “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”
9 Kata Yesus kepadanya: ”Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa;”
Maka, kalau kita ingin bisa mengerti karakter Allah, kita hanya perlu memandang Yesus.

Awal tahun ini, saya ke dokter mata untuk periksa rutin. Selama ini saya tidak perlu kaca mata. Saya bisa membaca buku dan menyetir mobil tanpa bantuan kacamata. Ada sedikit kejutan ketika saya periksa mata dan dokter mata meminta saya membaca tulisan di selembar kertas, kemudian sang dokter memberi saya kacamata dan bertanya ‘Apakah ada perbedaan?’ Waduh! Dulu saya kira tidak ada masalah ketika membaca tulisan, tetapi setelah memakai kaca mata yang sesuai, semua ketikan menjadi lebih hitam, lebih jelas dan mudah dibaca. Sangat berbeda.

Begitu juga, banyak orang manusia mengira mereka sudah cukup mengenal atau memahami Allah. Tetapi ketika Yesus datang, tiba-tiba kita diberi kacamata sehingga bisa melihat gambar yang benar. Tanpa Kristus, manusia hanya menebak-nebak karakter dan tujuan Allah. Ketika Yesus dilahirkan, dan hidup di antara kita, sebagai manusia, kita mempunyai Allah dalam wujud insani. Allah dapat didekati. Allah dapat dikenali.

Jikalau kita rindu memahami kesucian Allah seperti apa? Pandanglah Yesus. Lihatlah bagaimana dia mengusir pedagang-pedagang hewan korban dan penukar uang dari Bait Allah. Lihatlah bagaimana dia menjamah orang sakit dan menyembuhkan mereka.

Jikalau kita menanyakan apakah Allah mencintai keadilan? Pandanglah Yesus. Lihatlah bagaimana dia menelanjangi kemunafikan tokoh-tokoh agama, dan mencela penindasan terhadap orang miskin, orang sakit dan orang buangan.

Jikalau kita rindu memahami tentang kemuliaan Allah? Pandanglah Yesus. Lihatlah Yesus dimuliakan di atas gunung, wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang, serta Musa dan Elia mengakui Dia.

Jikalau kita rindu mengetahui apakah Allah bisa mengampuni kita? Pandanglah Yesus. Lihatlah bagaimana Yesus mengampuni wanita yang tertangkap basah berbuat zina. Lihatlah bagaimana Yesus mengampuni mereka yang menyalibkan dia.

Yesus adalah perantara yang membukakan sebuah pandangan baru akan Allah. Jika kita ingin melihat Allah, kita harus memandang kepada Yesus Kristus.

Bagikan Informasi ini

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Informasi Terbaru