Penderitaan Menuju Kemuliaan

Penderitaan menuju kemuliaan
1 Korintus 4: 17
Pdt. Arianto, S.E, M.Min.

Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

Ayat firman Tuhan ini ada dalam konteks pelayanan, di mana Rasul Paulus sungguh-sungguh berjuang agar Injil kerajaan Allah dapat disampaikan kepada orang-orang di Korintus dan mereka mendapatkan keselamatan dalam Tuhan Yesus melalui pelayanan Rasul Paulus. Ini menjadi kerinduan, beban dan orientasi Rasul Paulus (dan kita) yang tertuju hanya untuk kepentingan Tuhan saja semata. Kebenaran Firman Tuhan harus kita pegang dengan kokoh di dalam iman, di dalam menghadapi dan menjalani ketika kepahitan dan penderitaan menerpa kehidupan kita.

Ayat firman Tuhan ini sungguh-sungguh luar biasa dan Rasul Paulus dipakai Tuhan untuk menyingkapkan bahwa penderitaan (penderitaan juga berarti kesedihan yang amat dalam, beban hidup yang berat,… dan aniaya) yang mengerjakan kemuliaan kekal. Ayat ini sungguh memberikan alasan yang kuat agar kita tidak putus asa ketika hidup kita diperhadapkan dengan berbagai ujian atau cobaan. Ada perspektif kekal yang tidak boleh kita lupakan dan ini akan sangat bermanfaat bagi kehidupan dan pertumbuhan iman kerohanian kita.

Peganglah dan hidupilah kebenaran Firman Tuhan ini di dalam perjalanan hidup kita, terlebih lagi ketika hidup kita diterpa berbagai badai kehidupan yang ada: penderitaan, kepahitan, sakit penyakit,… dan tekanan hidup yang berat lainnya.

Apabila kita perhatikan dengan seksama, di dalam ayat Firman Tuhan ini, Rasul Paulus sedang memberikan gambaran yang kontras (mengontraskan) keadaan yang ada:

Penderitaan dan kemuliaan
Kita harus tahu bahwa penderitaan itu tidak mudah dihadapi dan dijalani dalam kurun waktu yang “panjang”. Penderitaan yang kita jalani tidak pernah seberat yang dihadapi dan dijalani oleh Ayub. Demikian juga  penderitaan dan kesengsaraan yang kita jalani dan pikul tidak akan pernah melebihi penderitaan dan kesengsaraan yang harus dipikul oleh Tuhan Yesus (Memikul salib dan mati di atas kayu salib).

Penderitaan yang kita jalani hanya sebatas usia kita saja (70-80 tahun), ini hanya dalam masa sementara, jika dibandingkan dengan kekekalan yang ada di depan kita. Sementara kemuliaan yang kita nantikan tidak terhitung dan tidak dapat dibandingkan dengan apa pun yang ada di dalam dunia ini. Allah yang mulia, Allah yang Agung,… dan yang berdaulat akan memberikan kepada kita “sesuatu” yang sangat berharga, yang kekal adanya.

Sekarang untuk masa yang akan datang
Kita yang hidup dan berkarya pada masa sekarang akan sangat mempengaruhi kehidupan kita di masa yang akan datang. Kita yang hidup di masa ini hanya perlu menaati dan menjalani kebenaran-kebenaran Firman Tuhan di dalam seluruh kehidupan kita. A.W Pink dalam bukunya berjudul, “Penghiburan bagi Orang Percaya” mengatakan,”…Penderitaan tidak dikirim oleh Allah untuk menyucikan daging, tetapi dirancang untuk kepentingan “manusia baru,… penderitaan itu membantu mempersiapkan kita untuk menerima kemuliaan yang akan datang, penderitaan menjauhkan hati kita dari sikap mencintai dunia”. Satu detik kemuliaan di dalam Tuhan itu sudah melampaui seluruh penderitaan yang dialami seumur hidup manusia.

Sungguh saya berdoa, kiranya Allah memberikan kepada kita mata yang tertuju hanya kepada Tuhan dan  iman yang akan memampukan kita untuk tetap dan terus berpegang dalam pengharapan kekal yang Tuhan sediakan dengan menghadapi, menjalani,… penderitaan, sakit penyakit,… dan air mata yang  terjadi di dalam kehidupan kita. Soli Deo Gloria!

Bagikan Informasi ini

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Informasi Terbaru