Sudahkah Anda Menerima Roh Kudus, Ketika Anda Menjadi Percaya?

Sudahkah Anda Menerima Roh Kudus, Ketika Anda Menjadi Percaya?
Eddy Hartanto

Rasul Paulus menanyakan pertanyaan ini kepada beberapa murid Tuhan Yesus yang ditemuinya di Efesus. Dan mereka menjawab belum. Hari ini ada berbagai macam denominasi gereja yang belum tentu sama pengertiannya tentang penerimaan Roh Kudus, tetapi penulis mengajak pembaca, apabila dalam lubuk hati anda masih terdapat pertanyaan ini: “Sudahkah saya menerima Roh Kudus?” mari kita mengalaminya seperti yang dialami murid-murid Tuhan Yesus di zaman Kisah Para Rasul.

Kisah Para Rasul 19:1-2 (TB) 1 Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. 2 Katanya kepada mereka: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.” 

Pada hari Pentakosta dimana gereja mula-mula berdiri, ketika orang-orang tertusuk hatinya oleh kotbah Petrus dan bertanya “Apakah yang harus kami lakukan?”, jawaban Petrus tercatat sebagai berikut:

Kisah Para Rasul 2:38 (TB)  Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.

Di ayat ini Roh Kudus disebut sebagai karunia yang diterima setelah seseorang bertobat dan memberi diri dibaptis.

Seberapa jauh pengertian kita tentang manusia roh kita?

Beberapa bulan yang lalu, penulis tergugah dengan ucapan bapak Komjen (Pol) Dharma Pongrekun, seorang jenderal polisi bintang tiga yang sedang diwawancara oleh Dr. dr. Siti Fadilah, menteri kesehatan RI yang menjabat di tahun 2004-2009. Bapak Komjen mengatakan “Kita adalah makhluk supranatural sehingga mayoritas kehidupan kita harusnya spiritual, tetapi kita sekolah yang dipertajam hanya intelektual, senin sampai sabtu, spiritualnya paling seminggu hanya 2 jam.” Benar, saya tidak pernah berpikir seperti itu, dan saya menyadari minimnya pengetahuan dan pengertian saya mengenai manusia roh.

Saya menemukan sebuah buku yang berjudul “Iniquity” yang ditulis oleh Dr. Ana Mendez Ferrell. Ada pembahasan mengenai ciptaan baru di dua halaman di buku itu yang membuat saya lumayan terperanjat, yang dikutip dan diterjemahkan sebagai berikut, dengan poin yang menurut saya penting ditebali:

Menjadi ciptaan baru bukanlah berarti diterima sebagai anggota suatu gereja atau pindah denominasi. Bukan mengubah perilaku atau kebiasaan moral kita. Juga bukan berhenti menghadiri pesta-pesta untuk mulai menghadiri gereja. Juga bukan meninggalkan teman-teman lama dan mempunyai teman-teman kristen. Bukan tentang membaca alkitab, atau mengambil semua kelas pendidikan kristen yang bisa dihadiri. Semua tindakan-tindakan ini dapat dicapai tanpa pernah menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Faktanya, hal ini ditawarkan oleh semua sistem religius yang memakai nama Yesus.

Religius adalah alternatif yang ditawarkan oleh iblis untuk membuat kita percaya kita baik-baik saja dengan Tuhan di balik cadar kesucian dan penampilan, tetapi memungkiri kuasanya. Dan membuat kita percaya bahwa hal eksternal yang tertulis dapat menggantikan inti dari roh. Hal ini sangat tidak kentara sehingga jutaan orang kristen yang kelihatannya “lahir baru” menjadi tertipu. Oleh karena itu Roh Kudus menyatakan ayat seperti “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!” – Wahyu 3:1b.

Ciptaan baru adalah kebangkitan dari roh kita. Ini bukanlah apa yang kita lakukan secara agamawi tetapi tentang menjadi apa kita. Perubahan ini bukanlah adopsi filosofi baru tetapi adalah perubahan total dari inti dari keberadaan kita. Sesuatu yang baru dan ajaib mulai beroperasi dalam diri kita, sesuatu yang tidak ada sebelumnya dan tidak bisa dilakukan oleh manusia. Inilah kebangkitan Kristus yang memberi hidup kepada roh kita atau dengan kata lain, kuasa kebangkitan bekerja dalam kita. Hal ini melahirkan makhluk yang sama sekali baru, yang rohani, hidup dan kuat, yang berisi seluruh kemuliaan dari kebangkitan.

Kemudian saya menemukan buku lain dari Dr. Ana yang berjudul “The Spirit Of Man” dimana jawaban-jawaban mengenai perenungan dari pernyataan pak Komjen mulai terjawab. Sampul buku tersebut terlihat sebagai berikut:

Manusia terdiri dari 3 bagian yaitu roh, jiwa, dan tubuh. Sudah banyak yang diketahui mengenai tubuh fisik melalui ilmu kedokteran dan ilmu anatomi. Juga tentang jiwa melalui ilmu psikologi. Saya menemukan buku ini banyak membantu memberi pengertian mengenai roh manusia.

Sampul buku ini menggambarkan wujud manusia roh dimana terlihat ada cahaya terang di tengah tubuh (seperti dimana jantung manusia berada dalam tubuh fisik)  dan di bagian kepala. Inilah pelita emas atau golden bowl yang disebut di Pengkhotbah 12:6. Pelita emas adalah salah satu bagian dari manusia roh dimana Roh Kudus dan roh manusia menjadi satu seperti suami istri menjadi satu dalam pernikahan, dan juga tempat Mahakudus dari Bait Suci rohani yaitu manusia itu sendiri.

Ketika seseorang belum dilahirkan kembali (dilahirkan dari air dan roh), maka manusia rohnya dalam kondisi mati dan dorman, dan gambarnya adalah seperti sampul ini tetapi tidak ada cahaya dan gelap sama sekali. Jiwanya (pikiran dan kehendak) berjalan sendiri tanpa dipimpin roh dan hanya fokus kepada dunia yang sementara ini. Ego manusia muncul dan menjadi tuhan dirinya sendiri.

Penerimaan Roh Kudus di kitab Kisah Para Rasul

Kembali ke kitab Kisah Para Rasul, kita akan mempelajari tiga peristiwa penerimaan Roh Kudus yang tercatat di Kisah Para Rasul.

Kisah Para Rasul 8:15-17 (TB) 15 Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. 16 Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. 17 Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus.

Kisah Para Rasul 10:44-47 (TB) 44 Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. 45 Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, 46 sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus: 47 “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?”

Kisah Para Rasul 19:1-7 (TB) 1 Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. 2 Katanya kepada mereka: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.” 3 Lalu kata Paulus kepada mereka: “Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” Jawab mereka: “Dengan baptisan Yohanes.” 4 Kata Paulus: “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus.” 5 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. 6 Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. 7 Jumlah mereka adalah kira-kira dua belas orang.

Kita dapat memperhatikan beberapa hal dari ayat-ayat di atas sebagai berikut:

  1. Pemenuhan Roh Kudus terjadi setelah baptisan dan penumpangan tangan, kecuali pada Kornelius dan seisi rumahnya. Penumpangan tangan juga disebut dalam asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus di Ibrani 6:1-2.
  2. Petrus dan orang-orang percaya melihat bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ketika mendengar orang-orang yang menerima Roh Kudus berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Di Markus 16:17 Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa berkata-kata dalam bahasa baru (new tongues) adalah salah satu tanda yang menyertai orang yang percaya. Pohon dikenal dari buahnya, seharusnya untuk menentukan apakah seseorang dipenuhi Roh Kudus dinilai dari seberapa lebat dan matang buah Roh Kudus terlihat dalam hidup orang tersebut, tetapi Petrus dan kawan-kawan menilai dari mendengar bahasa roh yang diperkatakan. Mungkin melihat buah Roh Kudus dalam hidup seseorang membutuhkan kedekatan pergaulan dan waktu.
  3. Ada kata “mulailah” sebelum mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat, berarti ada prosesnya dan orangnya mulai memperkatakan.

Bagaimana kita menerima Roh Kudus seperti di Kisah Para Rasul hari ini?

Berikut adalah saran-saran untuk menerima Roh Kudus seperti pembahasan di Kisah Para Rasul di atas.

  1. Pastikan kita percaya pada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat sungguh-sungguh melalui pertobatan kita secara sungguh-sungguh, dan hidup lama kita dikubur dalam baptisan terhadap Tuhan Yesus. Keputusan untuk bertobat, berbalik dan meninggalkan hidup yang lama sudah diambil dengan sungguh-sungguh dan tidak ada motivasi yang lain.
  2. Meminta Roh Kudus kepada Bapa sesuai dengan FirmanNya dalam Lukas 11:13. Kita bisa berdoa seperti berikut: “Tuhan Yesus, saya percaya padaMu. Bapa di surga, FirmanMu berkata bahwa Engkau akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaMu. Bapa, saya mohon curahkanlah Roh Kudus. Roh Kudus, tolong datang penuhi saya, dalam nama Tuhan Yesus”
  3. Cari murid Tuhan Yesus atau orang percaya yang sudah dipenuhi Roh Kudus dengan kedewasaan rohani, karakter Kristus, dan buah-buah Roh Kudus untuk menumpangkan tangan atas kita dan berdoa meminta kepada Bapa di Surga untuk mencurahkan Roh Kudus dan supaya Roh Kudus turun memenuhi kita. Setelah itu yang mendoakan bisa melanjutkan berdoa dalam bahasa roh.
  4. Miliki sikap hati yang rindu dipenuhi Roh Kudus. Jangan tegang, tetapi rileks. Anda mungkin bisa merasakan ada terasa listrik atau kehangatan mengalir, dengan rasa damai sejahtera pada saat berdoa.
  5. Seperti tercatat di Kisah Para Rasul, andalah yang harus mulai mengucapkan (menggerakkan bibir untuk berkata-kata), karena Roh Kudus tidak memaksa (pengendalian diri adalah bagian dari buah Roh Kudus). Percaya bahwa Roh Kudus membuat doanya dan kita yang mengucapkan doanya dengan mulai berkata-kata dalam bahasa roh.
  6. Apabila ada dorongan atau keinginan untuk mengucapkan suatu bahasa yang baru, segera ucapkan dengan iman, mungkin dalam bentuk silabel atau suku kata yang terlintas di pikiran atau vibrasi di lidah yang bisa dilafalkan. Yang penting adalah bahasa roh ini mengalir keluar.
  7. Mengucap syukur kepada Tuhan atas anugerahNya.

Setelah mendapat karunia Roh Kudus, saran-saran berikutnya:

  1. Hidup dipimpin oleh Roh Kudus. Jangan menentang, mendukakan, dan memadamkan Roh Kudus.
  2. Memberi makan manusia rohani kita dengan membaca, merenungkan, melakukan Firman Tuhan, sehingga kita menerima pertumbuhan menuju kedewasaan rohani dari Tuhan.
  3. Membangun diri dengan berdoa dalam bahasa roh sebanyak-banyaknya dalam doa dan saat teduh pribadi.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Bagikan Informasi ini

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Informasi Terbaru