Ulang Tahun Pernikahan ke-20, Sebuah Refleksi

Ulang Tahun Pernikahan ke-20, Sebuah Refleksi
Suryanto

Sejak masa pandemi ini, kita terus-menerus mendengar berita yang “tidak mengenakkan”. Data menunjukkan bahwa tingkat perceraian selama masa pandemi ini meningkat tajam. Survei yang dilakukan Bilangan Research Center mengenai tingkat spiritualitas orang Kristen menunjukkan bahwa tingkat spiritualitas di masa pandemi ini juga menurun di hampir semua gereja. Sebagai seorang calon hamba Tuhan, tentu saja berita ini menimbulkan kekhawatiran dalam hati saya.

Belum lagi belakangan ini kita juga dibombardir dengan berita tokoh-tokoh Kristen yang ramai-ramai mengumumkan bahwa mereka meninggalkan iman Kristen. Deconstructing, menjadi topik yang hangat akhir-akhir ini; sebuah istilah yang sering digunakan untuk banyak tokoh Kristen yang mengumumkan dirinya meninggalkan imannya.

Baru-baru ini misalnya, Paul Maxwell, seorang pendeta dan penulis buku yang cukup terkenal, kontributor dari laman Desiring God, mengumumkan lewat Instagram bahwa dia sekarang “bukan lagi seorang Kristen”. Maxwell berkata bahwa rasanya sangat menyenangkan dan dia merasakan sukacita yang luar biasa ketika melakukannya. Dia berkata bahwa untuk pertama kalinya dia mencintai hidupnya dan dirinya sendiri. Maxwell bergabung dengan orang Kristen terkenal lainnya seperti Jon Steingard, Joshua Harris yang terlebih dahulu mengumumkan bahwa mereka meninggalkan iman Kristennya.

Seakan belum cukup dengan berita tersebut, Abraham Piper, anak John Piper, juga melakukan hal yang sama. Melalui platform TikTok, dia mengkritik kekristenan dan mengolok-olok ayahnya sendiri (penulis buku dan pendiri organisasi Desiring God) dengan slogannya Not Desiring God. Abraham Piper adalah satu dari lima anak John Piper yang dibesarkan dalam rumah yang mengajarkan nilai-nilai kekristenan sejak kecil tetapi ternyata tidak menjamin dia tetap berpegang pada iman Kristennya.

Dalam perenungan saya akan hal-hal tersebut, sewaktu membaca semua berita “buruk” tersebut, yang terlintas dalam benak saya adalah ayat firman Tuhan dalam 1 Raja-raja 19:9-10, Di sana masuklah ia (Elia) ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.”

Ayat firman Tuhan ini terasa sangat relevan di tengah kondisi saat ini. Mungkin ada di antara kita yang berkata kepada Tuhan, “Aku bekerja dan melayani Engkau segiat-giatnya Tuhan, hanya bagi kemuliaan-Mu. Akan tetapi Tuhan, banyak orang Kristen yang meninggalkan imannya (spiritualitas menurun, yang mengikuti ibadah secara online juga menurun). Banyak pihak (termasuk para deconstructionist seperti Paul Maxwell dan Abraham Piper) meruntuhkan dasar iman anak-anak Tuhan. Kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh para tokoh Kristen ‘membunuh’ reputasi hamba Tuhan. Tinggal saya yang tersisa Tuhan dan saya pun tidak tahu berapa lama lagi bisa bertahan saat ini.”

Tetapi jawaban Tuhan tetap sama seperti jawaban-Nya kepada nabi Elia. Firman Tuhan dalam 1 Raja-raja 19:18 berkata, “Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia.” Tuhan masih “menyisakan” orang-orang yang tidak melakukan hal yang saya sebutkan tadi. Orang-orang “sisaan” itu salah satunya adalah saya!

Saya menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan dan pergi sekolah ke Sekolah Teologi SAAT pada umur 40 tahun. Akan tetapi dari 40 tahun umur saya itu, 30 tahun saya habiskan sia-sia dengan kecanduan pornografi. Saya berusaha sekuat tenaga untuk lepas dari kecanduan itu tetapi tidak bisa. Banyak cara dan nasihat yang sudah saya turuti tetapi saya tetap tidak bisa lepas dari kecanduan itu. Saya kemudian sampai kepada tahap seperti yang dialami Paul Maxwell dan Abraham Piper; saya merasa kekristenan itu sudah tidak relevan lagi. Tuhan itu hanyalah “tongkat penopang” bagi orang-orang yang lemah dan bodoh.

Namun ternyata Tuhan tidak melupakan saya, Tuhan tidak pernah menganggap remeh satu pun anak-Nya yang berseru memohon pertolongan kepada diri-Nya. Tiba-tiba saja saya dipulihkan dari kecanduan pornografi tersebut. Hal-hal yang dulu saya sulit sekali untuk lepas, sekarang dengan anugerah dan pertolongan Tuhan, saya bisa lepas. Hal-hal yang dulu sulit saya lakukan, bisa saya lakukan sekarang setelah Tuhan memulihkan saya. Suara Tuhan yang memanggil saya untuk menjadi hamba-Nya baru kembali saya dengar setelahnya.

Tanggal 5 Mei 2021 yang lalu, kami merayakan ultah pernikahan kami yang ke-20. Ada ucapan syukur bahwa kami bisa menjalani pernikahan kami sampai dengan tahun yang ke-20 ini. Namun 20 tahun itu bukanlah sebuah masa yang mudah untuk kami lewati. Karena kecanduan saya itu juga, pernikahan kami babak belur dari awal pernikahan. Saya berpikir setelah menikah, masalah kecanduan saya akan selesai dengan sendirinya tapi ternyata efeknya sangat besar kepada pernikahan kami. Hampir 13 tahun saya membuat hidup istri dan pernikahan kami menjadi seperti “neraka”.

Entah bagaimana dan apa yang Tuhan lakukan, ketika Tuhan memulihkan hidup saya, pernikahan kami juga ikut dipulihkan. Kami kemudian baru bisa menikmati sukacita pernikahan setelahnya. Saya bersyukur memuji Tuhan, “orang sisaan” inilah yang masih mau Tuhan pakai untuk memberitakan kabar baik ini. Tuhan berdaulat, Dia masih bekerja sampai saat ini, walaupun mungkin saat ini kita tidak dapat melihatnya, namun sayalah salah satu buktinya bagaimana Tuhan bisa memulihkan hidup yang berantakan menjadi sesuatu yang baru.

Lukas 4:16-21 (TB)
Ia (Yesus) datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”

Matius 11:28-30 (TB)
(Yesus berkata) “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

Bagikan Informasi ini

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Informasi Terbaru

Shine His Wonderful Light!

“Shine His Wonderful Light!” adalah seruan Wonderful Light Ministries (WLM). Anda dan sayalah umat terpilih, utusan rajani, bangsa kudus, umat milik Allah sendiri untuk memberitakan

Selengkapnya »