Identitas dan Panggilan Orang Percaya

Identitas dan panggilan orang percaya (1Pet. 2:9)
Pdt. Selamet Yahya Hakim

Cara terbaik untuk menunjukkan identitas adalah melalui tindakan.

Inilah yang ingin disampaikan oleh Rasul Petrus ketika ia mengirimkan surat pastoral kepada jemaat yang ia layani. Jemaat yang adalah kumpulan dari orang-orang percaya Yesus tiga puluhan tahun yang lalu. Jemaat yang hadir pada khotbah perdananya di hari Pentakosta. Di mana saat ini mereka tersebar dan bertumbuh. Di tengah penyebaran dan bertumbuhan, Rasul Petrus kembali mengingatkan akan jati diri mereka sebagai anak Tuhan.

Ada 4 jati diri orang percaya yang Petrus paparkan dalam 1 Petrus 2:9, yaitu:

  1. Bangsa yang terpilih ,
  2. Imamat yang rajani,
  3. Bangsa yang kudus,
  4. Umat kepunyaan Allah sendiri.


Semua jati diri ini berlatar belakang Israel, hak-hak istimewa yang Tuhan berikan kepada bangsa Israel, di mana hak-hak tersebut sekarang diberikan kepada setiap orang percaya (untuk lebih jelas bisa lihat video rekaman sesi I dari Pdt. Gideon Ang).

Jati diri ini adalah kekuatan dalam membangun rasa percaya diri dalam diri orang percaya. Rasa percaya diri tersebut didapatkan karena Allah dalam Yesus memberikan jati diri yang membuat setiap orang percaya merasa dirinya:

  1. I am acceptable
  2. I am valuable
  3. I am capable
  4. I am forgivable


Oleh karena itu, kita jangan berhenti pada diri mendapat jati diri dan percaya diri saja, melainkan melangkah kepada apa tujuan dibalik ini semua?

Ayat 9b mengatakan: supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (Wonderful Light).

Kata memberitakan di sini artinya: memproklamasikan, menggemakan, mengumandangkan kepada dunia tentang hal-hal yang Allah kerjakan bagi orang percaya. Apa saja itu? Tentang ciptaan Nya, pemeliharaan-Nya ,penebusan-Nya dan persekutuan dengan Nya yang ajaib. Proklamasi ini harus menjadi gaya hidup bagi orang percaya dan di jaga dengan baik-baik jangan sampai dirampas oleh iblis.

Saya teringat waktu Presiden Soekarno dan wakil Presiden Mohammad Hatta, memproklamasikan kemerdekaan RI, tanggal 17 Agustus 1945, sejak saat itu mereka (bangsa Indonesia) tidak mau berada dalam penjajahan Belanda dan bangsa lain, walau ada harga yang harus dibayar demi mempertahankan kemerdekaan tersebut. Demikian juga setiap orang percaya, begitu kita memproklamasikan perbuatan Allah yang dahsyat, janganlah kita hidup dalam kegelapan lagi, tetapi hidup dalam terang-Nya yang ajaib (Wonderful Light).

Karena Allah dalam diri Yesus telah memberikan diri-Nya, setiap orang percaya bisa mengalami:

  1. Hidup dalam ucapan syukur
  2. Hidup dalam kekudusan
  3. Hidup dalam persekutuan dengan Tuhan

 
Tiga gaya hidup ini dipersatukan dalam satu wadah yang disebut dengan ibadah kepada Tuhan (Roma 12:1-2).

 

 

 

 

 

Bagikan Informasi ini

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Informasi Terbaru