Timbangan Dosa dan Amal dalam Keselamatan

Timbangan Dosa dan Amal dalam Keselamatan
Pst. Max Chandra

Ada agama memakai timbangan untuk menjelaskan apakah seorang akan masuk surga atau neraka. Tentu cara ini sangat tidak lazim di kalangan Kristen. Apakah ini salah? Belum tentu, tergantung pengertian tentang amal dan dosa!

Dalam agama pada umumnya mengatakan bahwa amal dapat menebus dosa, sehingga terjadilah kesepakatan bahwa pada akhir hidup seseorang jika amal melebihi dosa maka orang tersebut akan masuk surga, tetapi jika sebaliknya maka akan masuk neraka.

Jadi agama mempunyai rumus umum yaitu berusaha mengurangi dosa dan memperbanyak amal. Bahkan ada orang Kristen pun menganut pandangan demikian, mungkin karena diajarkan oleh pendetanya atau masih belum membuang konsep keselamatan sebelum percaya Yesus.

Jika kita akan memakai rumus keselamatan model timbangan ini maka kita akan memikirkan kesulitan atau ketidakakuratan rumus ini.  Misalnya bagaimanakah kita menghitung besar kecilnya dosa? Apakah setiap agama mempunyai keseragaman tentang besar kecilnya dosa?  Ada agama menganggap semua makanan boleh dimakan, agama yang lain mengatakan ada makanan yang haram, dan apa yang dikatakan oleh agama A haram malah dianggap halal dalam agama B, dan sebaliknya.

Demikian juga amal! Siapa yang mencatat jumlah amal, amal yang manakah yang paling besar? Bagaimana menilai kriteria amal itu?

Alkitab mengajarkan dosa itu diawali oleh kejatuhan Adam dan Hawa. Adam tidak taat kepada larangan yang diperintahkan Tuhan maka dia berdosa. Adam yang telah berdosa ini statusnya sebagai orang berdosa ya tentu semua yang dilakukan adalah dosa. Mungkin dengan ilustrasi cetakan atau stempel dapat menolong memperjelasnya.

Stempel akan menghasilkan gambar sesuai dengan stempelnya, tetapi jika stempel itu ada cacatnya misalnya stempel di kantor pos yang bertuliskan “kilat khusus” huruf “s” nya rusak maka akan tercetak “kilat khusu”. Stempel yang sudah rusak ini melukiskan keadaan Adam setelah jatuh ke dalam dosa. Jika stempel rusak itu dipakai maka semua hasilnya “kilat khusu”, demikian juga manusia.

Status manusia adalah orang berdosa apa pun yang dilakukannya adalah dosa, mungkin perbuatan itu terlihat baik tetapi sebenarnya dosa yang dibungkus dengan baju kebaikan. Motivasinya bukan keluar dari hati yang sungguh baik. Misalnya berbuat amal menolong orang lain, membagi-bagikan sembako. Apakah ini salah? Kelihatan tidak salah, namun harus diuji motivasinya, apa yang mendorongnya melakukan ini? Mungkin akan menemukan sederet jawaban, supaya bisa masuk surga, hati gelisah karena banyak dosa dengan beramal mengharap hati jangan gelisah, supaya dilihat dan dipuji orang, supaya mendapat pahala di dunia dan akhirat. Satu ilustrasi lucu tapi nyata, seorang anak diam-diam memakai komputer ayahnya main gim, lalu komputer itu mendadak rusak, karena ketakutan, ketika ayahnya pulang dia langsung menawarkan diri untuk mencuci mobil ayahnya. Ayahnya curiga mengapa anaknya tiba-tiba berbuat baik menawarkan diri mencuci mobil, padahal biasanya menolak. Akhirnya ayah menemukan jawabannya dari orang lain bahwa anaknya itu telah merusak komputernya yang dimainkannya tanpa izin ayah. Karena takut dimarahi maka berbuat baik agar ayah tidak marah.  Seperti inilah contoh hidup manusia.

Agama umumnya beranggapan dosa itu dapat ditebus dengan amal, kalau memang demikian maka orang yang pandai berdagang mempunyai banyak harta boleh berbuat lebih banyak dosa dan dapat ditebusnya dengan amal. Betulkah dosa dapat ditebus dengan amal? Apakah itu dosa?  Sebagai ilustrasi, seorang raja yang sangat berkuasa dan banyak harta duduk di atas takhtanya, lalu saya datang dan mencabut beberapa jenggot sang raja dan dia merasa sangat kesakitan dan marah sekali. Untuk menebus rasa bersalah, saya membeli buah-buahan dan persembahkan kepadanya. Apakah ini cukup? Akal sehat mengatakan itu tidak mungkin, raja itu tidak perlu buah-buahan saya, ini menyangkut harga dirinya. Apalagi Tuhan yang menciptakan langit dan bumi apakah bisa dipuaskan dengan kebaikan kita yang munafik?

Ada dua hal yang penting di sini yaitu dosa itu serius, hanya dengan pengampunan Tuhanlah dosa itu diampuni, tentu dengan caranya Tuhan bukan usul dan rencana manusia berdosa.

Lalu, apakah orang percaya Yesus tidak perlu berbuat amal? Satu kalimat akan menjelaskan pertanyaan di atas.  “Amal kebaikan tidak akan menyelamatkan, tetapi orang yang sudah diselamatkan Yesus akan berbuat baik.” Orang yang diselamatkan Yesus itu sudah dilahir barukan menjadi ciptaan baru, dia berbuat baik untuk menyatakan terima kasihnya kepada Tuhan. Orang Kristen memberi karena sudah mendapatkan anugerah Tuhan.

 

Timbangan

  Timbangan kanan
Masuk surga
Timbangan kiri Masuk neraka Hasilnya
Agama-agama Amal lebih banyak Dosa lebih sedikit Tergantung perbandingan amal dan dosa
Kondisi sebenarnya Amal manusia terlalu enteng bahkan palsu Dosa manusia terlalu serius tidak dapat dibandingkan dengan amal Timbangan mutlak turun sebelah kiri
Alkitab Yesus sendiri menjadi juru selamat manusia Dosa manusia terlalu serius tidak dapat dibandingkan dengan amal Anugrah Penebusan Yesus  melampaui segala dosa manusia

Timbangan mutlak turun  ke kanan

 

Bagikan Informasi ini

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Informasi Terbaru