Merayakan Tuhan Yesus

Merayakan Tuhan Yesus
Pdt. Joni Stephen

Yohanes 12:1-16

Kami menikah tepat 30 tahun yang lalu pada bulan Juli ini, sehingga pada saat menulis renungan sangat istimewa bagi kami. Renungan ini adalah ungkapan syukur dan terima kasih kami pada Tuhan yang telah menyatukan dan memimpin pelayanan kami bersama di Ladang Tuhan.

Renungan ini saya ambil dari Yohanes 12:1-6, ada alasan mengapa saya memilih perikop ini:
Karena Yohanes 12 menceritakan suatu perjamuan dalam konteks perayaan.
Namun yang dirayakan, bukanlah kita, Lazarus atau Maria dan Marta.
Yang dirayakan justru Tuhan Yesus.

Mengapa demikian?
Karena para murid baru saja menyaksikan suatu mukjizat yang begitu menakjubkan. Ada orang yang sudah mati empat hari, jenazahnya sudah mulai membusuk. Itu sebabnya Marta tidak mau kubur Lazarus dibuka.

Kita semua tahu apa yang terjadi. Tuhan Yesus berkata: “Lazarus, keluarlah!” dan Lazarus memang keluar dari kuburnya. Karena Lazarus dibangkitkan, maka Maria, Marta dan Lazarus mengadakan perjamuan itu bersama-bersama dengan teman-teman mereka.

Hendaknya hidup kita senantiasa merayakan Tuhan Yesus karena sama seperti Tuhan Yesus bermakna bagi Lazarus dan saudaranya, Tuhan Yesus juga bermakna bagi kita. Orang yang pernah berlutut di hadapan Tuhan Yesus dan merasakan kasih-Nya yang menyelamatkan dirinya seharusnya senantiasa merayakan Tuhan Yesus di dalam hidup dan pelayanan kita.

Siapa tuan rumah pada perayaan itu?
1. Yang pertama, ada Lazarus
Lazarus bersukacita karena dirinya beralih dari maut rohani ke kehidupan rohani. Dia “turut duduk bersama dengan Tuhan Yesus di meja makan” (ayat 2, terjemahan yang lebih tepat).
Lazarus merasakan damai sejahtera yang melampaui akal budi manusia.
Itulah yang dikehendaki Tuhan Yesus, yaitu di hadirat-Nya, duduk bersama di meja makan.

2. Ada Marta yang juga hadir
Marta yang berdukacita kemudian menjadi bersukacita karena Yesus membangkitkan Lazarus. Sekarang tidak ada keluhan sama sekali dari Marta. Sebaliknya, sudah terjadi transformasi, sukacita yang sejati. Sekarang saat untuk merayakan.

3. Yang berikutnya adalah Maria.
Maria pernah mempermalukan keluarganya karena dosanya pada waktu lampau. Dia menyesali dosanya dan merasa begitu tercemar. Tuhan mengampuni dosanya. Sekarang Maria sedang merayakan Tuhan Yesus dengan memakai minyak narwastu murni yang sangat mahal. Itulah cara Maria merayakan Tuhan Yesus. Caranya menyatakan: “Saya menyerahkan semuanya kepada Tuhan Yesus. Semuanya saya berikan dengan senang hati. Saya akan tetap mengasihi dan percaya kepada-Nya. Setia hari saya akan hidup bersama-Nya.

Saudara, apakah kita sekarang ini memang demikian caranya merayakan Tuhan Yesus akhir minggu ini?
Apakah kita sedang merenungkan bagaimana caranya kita merayakan Tuhan Yesus masa kini sesuai dengan zamannya? Bagaimana cara kita dapat menyatakan kepada Tuhan Yesus bahwa kita sungguh menjunjung Dia?

Kemudian apakah akan kita berikan kepada-Nya sebagai ganti minyak narwastu murni yang sangat mahal? Memang hidup kita sendiri. “Sayalah bukan milik saya sendiri. Saya telah dibeli (yaitu ditebus) dan harganya telah lunas dibayar” (1 Korintus 6:20).

Tuhan, sayalah milik-Mu. Pakailah saya sesuai dengan kehendak-Mu. Saya bersedia.

Coba sejenak pikirkan dedikasi mereka selama waktu yang lampau, Mungkin juga kita dapat ingat saat-saat kita sendiri menghadapi pergumulan pribadi. Mungkin juga ada kegagalan yang harus kita akui di hadapan Tuhan. Mungkin juga kita ingat saat-saat kita mengalami belas kasihan dan anugerah Tuhan pada waktu kita sangat memerlukannya. Mungkin juga kita ingat ada saat-saat di mana ada kemenangan atas dosa dan keakuan. Mungkin juga kita ingat ada saat kita mengalami damai sejahtera yang melampaui akal budi manusia.

Semuanya karena Tuhan Yesus!
Marilah kita melayani dengan sikap murah hati. Marilah kita membawa buli-buli pualam yang berisi minyak narwastu murni yang mahal… lalu menuangnya pada Tuhan Yesus.

Bagikan Informasi ini

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Informasi Terbaru

“Ini Tuhan!”

“Ini Tuhan!” Oswald Chambers dari buku My Utmost for His Highest (1935) Kata Yesus kepadanya, “Berilah Aku minum” (Yoh. 4:7). Berapa banyak dari kita yang

Selengkapnya »