Memikul Salib
Ev. Suryanto

Lukas 9:23
Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”

Dalam artikel saya yang sebelumnya, saya sudah membahas sebagian dari ayat ini. Kita sudah belajar bahwa perintah untuk menyangkal diri dan memikul salib dalam perikop ini diberikan Yesus kepada murid-murid-Nya yang mempunyai kerinduan untuk mengikuti Dia, bukan kepada orang banyak. Seorang murid pasti mau dan mampu melakukan perintah ini. Kita bisa menilai seseorang itu murid Yesus sejati atau bukan, dari apakah mereka mau mengikuti perintah ini. Sebelumnya, kita juga sudah membahas bahwa untuk mengikut Yesus kita harus menyangkal diri kita setiap hari. Menyangkal diri itu berarti menolak kecenderungan kita untuk berdosa.

Hari ini, saya akan melanjutkan dengan memikul salib. Apa yang dimaksud dengan memikul salib? Di negara Filipina dan beberapa negara Amerika Selatan (seperti di foto), ada semacam tradisi yang dilakukan umat Katolik untuk merayakan Paskah, yaitu dengan cara mengambil sebuah salib kayu yang lumayan besar dan memikulnya sepanjang jalan. Mereka memikulnya sambil memakai sebuah mahkota dari duri. Di beberapa daerah malah mereka melakukan memikul salib secara harafiah. Jadi mereka benar-benar memikul balok kayu besar, kemudian di ujung rute perjalanan, orang yang memikul salib itu benar-benar dipakukan di kayu salib yang dibawanya tersebut. Apakah itu yang dimaksud dengan memikul salib? Tidak!

Mengapa saya berkata demikian? Karena ayat tersebut dengan jelas mengatakan bahwa kamu harus menyangkal diri dan memikul salib setiap hari. Yesus tidak mengatakan bahwa kita harus memikul balok kayu yang berupa salib dan memikulnya setiap hari, ke mana-mana memikul salib tersebut. Tidak, bukan itu maksud Tuhan Yesus sewaktu berbicara mengenai memikul salib. Banyak orang Kristen yang salah mengerti mengenai memikul salib di sini.

Jadi apa artinya memikul salib?

Memikul salib itu artinya memikul beban yang diberikan Tuhan untuk kita tanggung. Dua ribu tahun yang lalu, Yesus memikul salib-Nya, naik ke atas bukit Golgota. Salib itu salib yang harus Dia tanggung untuk menebus dosa kita semua. Yesus tahu bahwa salib itu harus Dia tanggung karena salib itu memang diberikan oleh Bapa kepada-Nya untuk dia tanggung. Sama seperti itu juga hidup kita saat ini, kita harus memikul salib kita setiap hari karena salib itu memang diberikan Tuhan kepada kita masing-masing untuk kita tanggung. Jadi kalau kita perhatikan, memikul salib itu salib yang diberikan Tuhan kepada kita, bukan salib yang lain.

Mengapa saya berkata demikian? Ada orang yang berkata bahwa salibnya dia adalah keluarganya. Salibnya dia adalah hubungan keluarganya yang tidak harmonis, suaminya yang suka memukuli dia atau istrinya yang meninggalkan dia. Itu bukan salib yang diberikan Tuhan kepada kita. Sering kali itu salib yang lain yang harus dipikul karena kesalahannya sendiri. Mungkin orang itu sudah salah memilih pasangan hidup yang tidak seimbang. FT memperingatkan kita untuk mencari pasangan hidup yang tidak hanya seiman tetapi juga seimbang, artinya pasangannya hidup takut dan mengasihi Tuhan dan sesama. Mungkin istrinya meninggalkan dia karena dia tidak bertanggung jawab dan malas bekerja. FT memperingatkan kita, jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. FT dilanggar dan sekarang, setelah pasangan hidupnya “menyusahkan hidup dia”, jangan berkata ini salib yang harus aku tanggung. Itu bukan salib yang diberikan Tuhan untuk kita pikul.

Ada orang yang berkata ini salib yang aku harus tanggung ketika dia masuk penjara karena mencuri atau menipu orang. Bukan, itu bukan salibnya Tuhan. Ada orang yang berkata ini salib yang harus aku pikul ketika dia harus mengalami sakit penyakit tetapi sakit penyakitnya karena dia tidak menjaga kesehatannya dengan baik, sakit penyakit karena minum minuman keras, merokok, atau narkoba. Bukan, itu bukan salibnya Tuhan. Itu semua beban yang harus orang itu tanggung karena kesalahan dirinya sendiri. Memikul salib yang benar itu artinya memikul salib yang Tuhan berikan, bukan salib karena kesalahan kita sendiri.

Atau mungkin ada yang berkata anakku atau mantuku yang menjadi salibku. Anakku yang berulah terus, anak kita menyusahkan kita sebagai orang tuanya. Anak kita memilih menggunakan narkoba, saya mengenal seorang ibu yang sudah janda yang anaknya pecandu narkoba, semua barang di rumahnya habis dijual oleh anaknya tersebut untuk membeli narkoba. Ibunya cuma bisa menangis sambil memukul-mukul dadanya. Atau mungkin ada orang yang menyalahkan mantunya yang jahat atau kurang ajar, orang itu berkata ini salibku. Bukan, itu juga bukan salibnya Tuhan tetapi itu beban yang harus kita tanggung karena kesalahan orang lain, kesalahan anak kita, kesalahan mantu kita. Memikul salib yang benar itu memikul salib yang Tuhan berikan, bukan salib karena kesalahan orang lain.

Jadi memikul salib yang benar itu seperti apa?

Ketika Yesus berkata kepada para murid-Nya bahwa mereka harus memikul salib, yang ada di dalam pikiran mereka itu bukanlah salib seperti yang kita pikir sekarang. Salib itu bukanlah salib yang dikalungkan di leher mereka sebagai perhiasan atau cincin yang berbentuk salib. Juga bukanlah tato salib di dada atau lengan mereka atau tato di tangan mereka. Salib waktu itu adalah sebuah hukuman mati yang mengerikan dan menyakitkan. Orang yang disalibkan itu dipermalukan dengan cara ditelanjangi dan digantung di tengah-tengah orang banyak, diludahi dan dihina. Orang yang disalibkan itu dihukum dengan cara dicambuk, dipakukan dan ditusuk tombak. Yang mereka, para murid Yesus, tahu adalah bahwa memikul salib itu artinya siap mati demi mengikuti Yesus. Di zaman sekarang, siap mati itu bisa diartikan siap mati kepada kehendak pribadi kita dan melakukan kehendak Tuhan, apa yang Tuhan mau.

Yang Tuhan mau itu, kita mengabarkan Injil. Kalau kita dipenjara karena mengabarkan Injil, itu adalah salib yang diberikan Tuhan untuk kita tanggung. Yang Tuhan mau itu, kita bertanggung jawab melakukan tugas kita. Seorang kepala keluarga harus bekerja untuk menghidupi keluarganya, seorang istri harus melakukan tugasnya mengasihi dan merawat keluarganya. Seorang anak harus menghargai dan menghormati orang tuanya, merawat kedua orang tuanya. Kalau seorang kepala keluarga harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga, kalau seorang istri harus bekerja keras untuk mengasihi dan merawat keluarganya, kalau seorang anak harus bekerja keras untuk menghormati dan merawat orang tuanya, itu adalah salib yang diberikan Tuhan untuk kita tanggung. Yang Tuhan mau itu, kita melakukan pelayanan yang dipercayakan kepada kita. Kalau kita terluka karena pelayanan kita, disalahpahami, tidak dihargai karena pelayanan itu, tetapi kita tetap melayani dengan sepenuh hati, itu adalah salib yang harus kita pikul. Itulah makna memikul salib.

Tuhan kiranya menolong dan memampukan kita semua untuk memikul salib yang sudah Tuhan berikan kepada kita masing-masing untuk kita tanggung. Tuhan memberkati kita semua. Amin!

 

Bagikan Informasi ini

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Informasi Terbaru