Keluarga Ruben – Bagian I

Keluarga Ruben – Bagian I
Pdt. Djohan Kusnadi

Kisah Ruben sungguh merupakan kisah tragis dan ini sungguh menjadi peringatan tersendiri bagi kita. Seorang anak sulung yang cukup baik tapi tidak bernasib baik. Ini sama seperti yang dialami oleh Kain, Ismail, dan Esau dalam kisah mereka masing-masing. Yang paling tragis adalah posisi anak sulungnya yang penuh berkat dan kebanggaan harus digantikan oleh Yusuf, adik ke sebelas.

Di dalam segala kebaikan hatinya sepertinya tidaklah mencukupi untuk menutupi akibat dosa dan hukuman yang menjeratnya dan ini bahkan merembet sampai ke masa depan keluarganya dan keturunannya.

Arti nama Ruben sebenarnya cukup bagus yaitu: karena Tuhan sudah melihat penderitaanku sehingga suamiku mencintaiku sekarang (Kej 29:32). Latar belakang pemberian nama ini karena Yakub lebih mencintai Rahel yang tiada lain adik kandung Lea sebagai cinta pertamanya dan cinta sejatinya. Namun faktanya Lealah yang terlebih dahulu diberikan oleh Laban ayahnya untuk menjadi istri pertama Yakub. Lea sadar betul dirinya tidaklah secantik adiknya dan dirinya bukanlah wanita yang dicintai Yakub. Sehingga dengan kelahiran Ruben, itu seperti obat mujarab untuk menutupi rasa sakit hatinya dan juga sebuah harapan besar agar berhasil untuk merebut kembali cinta sang suami.

Ada beberapa kelebihan dari kehidupan Ruben yang kita bisa belajar yaitu:

Satu, Ruben seorang anak yang sangat berbakti kepada ibunya.

Ia banyak membantu dan berkorban demi untuk urusan sang Ibu. Salah satunya yaitu menukar tanaman mandrake yang Ruben peroleh (Kej 30:14) dengan jatah Rahel dalam memiliki Yakub pada malam itu. Ruben sudah tahu akan manfaat tanaman mandrake (terjemahan Indonesia: buah dudaim) dan sepertinya ia ingin berikan sebagai hadiah spesial buat Lea, ibunya. Namun ketika Rahel melihat tanaman itu,  Rahel sangat tertarik dan sangat menginginkan mandrake itu. Walau untuk itu ia harus rela memberikan jatah semalam bersama suami kepada Lea, kakaknya.

Rupanya tanaman mandrake (buah dudaim) sudah dikenal pada masa itu sebagai tanaman yang sangat berkhasiat dan banyak manfaatnya. Tanaman ini bisa digunakan sebagai obat narkotika. Salah satunya bila akarnya direbus maka bisa dipakai sebagai obat bius atau untuk mengurangi rasa sakit. Ada juga unsur zat afrodisiak di dalamnya yang sangat berguna untuk meningkatkan gairah seks.

Selain itu tanaman ini juga diyakini memiliki kekuatan magis tertentu dan sering dipakai dalam ritual magis pada masa itu. Tanaman ini masih terkenal dan cukup banyak dijual dalam bentuk herbal atau kapsul hingga sekarang.

Karena menyadari besarnya kegunaan tanaman mandrake itu maka Rahel pun rela menukar jatah semalamnya bersama Yakub kepada Lea.

Ruben kelihatan sekali sangat digunakan sebagai senjata ampuh oleh Ibunya demi kepentingan sang Ibu. Karena ditukarkannya tanaman mandrake inilah maka Lea mengandung lagi dan melahirkan kembali anak lelaki buat Yakub.

Dua, hati yang begitu mengasihi akan adik-adiknya

Hal ini tampak jelas di berbagai peristiwa di mana Ruben tidak ingin ada perselisihan atau ketidakharmonisan di kalangan adik-adiknya.  Bukti kasihnya nyata di mana Ruben tidak pernah merasa iri dengan semua adik-adiknya walau mereka kelihatan lebih menonjol dari dirinya.  Ia tidak merasa sedikit pun tersaingi oleh Yehuda yang kelihatan lebih pintar dalam berstrategi dan dalam memimpin. Sehingga Yehuda sering memberikan banyak usulan dan selalu diterima oleh saudara-saudaranya.  Ia juga tidak marah dan sakit hati ketika mendengar cerita mimpi adik paling bungsu saat itu (Benyamin belum lahir) yang memberikan mimpi yang jelas artinya ia dan adik-adiknya yang lain akan menyembah sang adik yang paling bungsu itu.  Bahkan dalam mimpi yang terakhir tidak tanggung-tanggung sampai ayahnya sendiri pun akan menyembah Yusuf si bungsu itu.

Ia juga tidak menaruh dendam ketika kejahatan seksualnya terbongkar dan dilaporkan oleh Yusuf kepada ayahnya. Ia menyadari posisinya sangat tidak aman akibat ulahnya itu sudah diketahui ayahnya.  Bahkan Ruben berusaha keras untuk menolong menyelamatkan Yusuf dari rencana adik-adiknya yang lain yang segera ingin membunuhnya (Kej 37:21). Ia mengatakan dengan tegas: jangan tumpahkan darah, lemparkan dia ke sumur yang ada di padang urun ini, tetapi jangan apa-apa kan dia. (Kej 37:22).  Sepertinya Ruben memberikan kesan agar Yusuf dibiarkan mati secara perlahan-lahan dalam sumur kering itu.  Padahal ia berniat bila adik-adiknya lengah, ia ingin mengeluarkan Yusuf dari dalam sumur tangki air itu.

Betapa hancur hatinya setelah Ruben kembali ke tangki air itu ternyata Yusuf sudah tidak ada lagi di sana, ia sudah dijual ke saudagar-saudagar Ismail.  Ruben pun segera mengoyakkan pakaiannya. (Kej 37:29).  Anda bayangkan Ruben posisi dan reputasinya rusak dan terancam gara-gara Yusuf namun Ruben adalah orang satu-satunya yang mati-matian membela Yusuf dan sangat terpukul ketika Yusuf telah dijual. Ia sadar ia tidak akan bertemu Yusuf untuk selama-lamanya.

Tiga, mempertaruhkan nyawa anak-anaknya demi kepentingan saudara-saudara dan ayahnya.

Ini terjadi ketika Yusuf yang menjadi perdana menteri Mesir mengharuskan mereka untuk membawa Benyamin bila mereka datang kembali ke Mesir demi memperoleh gandum untuk kelangsungan hidup mereka.  Israel (Yakub) tentu bersikeras tidak akan menyerahkan anak bungsunya kepada anak-anaknya yang lain mengingat Yusuf sudah meninggal dan tinggallah Benyamin yang menjadi satu-satunya anak bungsu dari sang istri yang dikasihinya. Demi untuk memperoleh izin dari sang ayah untuk membawa Benyamin, Ruben berkata: kedua anakku laki-laki boleh engkau bunuh, serahkanlah dia ke dalam tanganku, maka ia akan kubawa kembali kepadamu (Kej 42:37). Dari pada semua harus menderita karena tidak ada gandum, ia rela mengorbankan ke dua anak laki-lakinya yaitu Henokh dan Palu (Kej 46:9) sebagai jaminan dan sebagai korban supaya mereka bisa berangkat kembali ke Mesir beserta Benyamin.

Bagikan Informasi ini

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Informasi Terbaru