Keluarga Adam, Bagian II

Bagian I

Namun pertanyaannya mengapa keluarga ini bermasalah?

Pertama, persekutuan dengan Tuhan tidak membawa perubahan hidup yang menyeluruh. Bila kita simak dengan teliti kisah Adam ini, kita tahu Ia suka untuk berkomunikasi dengan Tuhan Allah secara langsung, muka dengan muka. Suatu hubungan yang begitu mesra dan intim. Namun sewaktu ia jatuh ke dalam dosa, kita menemukan bahwa Adam mulai bersembunyi dari hadapan Allah karena ia sadar, ia telanjang dan ia malu.  Sebelumnya tidak pernah ada rasa malu karena kemuliaan Allah masih memenuhi kehidupan Walau ia sering kali bersekutu dengan Tuhan sebelum jatuh ke dalam dosa namun itu tidak sampai pada perubahan hati yang menyeluruh.  Banyak orang Kristen bersekutu dengan Tuhan namun tidak sampai mengubahkan hati mereka menjadi murni dan baik seperti hatinya Tuhan. Ini yang perlu dan harus ada dalam keluarga Kristen.  Disisi lain ada juga orang Kristen yang katanya memiliki hati yang baik namun kurang memiliki persekutuan yang intim dengan Tuhan.   Maka kebaikan hatinya adalah sisa-sisa dari kemuliaan sebagai mahkota ciptaan Allah dan itu haruslah diikuti dengan keintiman persekutuan dengan Tuhan.

Kedua, yang memberi nama kepada Kain adalah Hawa bukannya Adam.  Kelihatannya Adam begitu pasif berperan dalam keluarga sehingga serasa tidak peduli untuk nama anak-anaknya.  Saya tidak jelas mengapa Adam begitu pasif dalam memimpin keluarga apakah karena sakit hati dihukum Tuhan dan diusir dari taman Eden, sakit hati kepada istrinya sebagai ‘biang kerok’ kejatuhan dirinya atau memang karakternya yang cuek? Namun satu hal, Adam seharusnya yang berperan sebagai pengambil keputusan prinsip dalam keluarga.  Kepala keluarga yang tidak berperan sebagaimana seharusnya mengakibatkan kondisi keluarga menjadi tidak berfungsi dengan indah dan akibat buruknya keluarga ini berpotensi untuk menjadi semakin bertambah buruk (parah).  Bila ada hal yang mengganjal dalam relasi dengan pasangan Anda segera diselesaikan sebelum semuanya bertambah buruk dan menjadi fatal.   Bila hal itu sulit diatasi, berdoalah memohon pertolongan Tuhan, mintalah bantuan rohaniwan, atau teman yang memiliki kerohanian yang baik (anggota sel).  Sebagai kepada keluarga, seorang ayah (suami) harus berperan.  Ini sebagai dasar mendatangkan berkat, pertolongan, pimpinan dan sejahtera yang melimpah dari Tuhan.

Ketiga. Kain memiliki arti nama yang bagus namun Habel memiliki arti nama yang jelek (Habel= uap, asap).  Mengapa ini terjadi? Kain dari kecil diharapkan sebagai pewaris dan generasi penerus keluarga yang diharapkan sehingga dari kecil, ia sudah mendapatkan banyak porsi utama dibanding dengan adiknya, sehingga sewaktu terjadi penilaian yang terbalik dari Tuhan Allah kepada adiknya. Hal itu menyebabkan Kain tidak dapat menerima dan sangat sakit hati.  Ia merasakan posisinya terancam sebagai anak emas, anak kesayangan keluarga.  Seharusnya Kain dapat mengintrospeksi diri namun karena didikan yang memanjakan dirinya sebagai yang nomor satu menyebabkan ia tidak dapat berpikir jernih.  Pilih kasih dari orang tua yang begitu berlebihan merupakan penyebab sakit hati anak yang menjadi korban.

Namun uniknya Habel bisa untuk tidak sakit hati, ia tetap beriman kepada Tuhan bahkan dengan iman ia mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan sebagai sumber dan harapan satu-satunya dalam hidupnya. Bagi Kain, ia sudah memperoleh begitu bergelimang segala kasih sayang dan perhatian keluarga sehingga terkesan asal-asalan dalam memberikan korban kepada Tuhan. Tidak ada kerinduan untuk memberikan yang terbaik buat Tuhan. Tuhan Allah menolak persembahan Kain bukan karena Tuhan tidak senang dengan korban tumbuh-tumbuhan. Alkitab banyak menyinggung tentang memberikan korban persembahan dari tumbuh-tumbuhan. Tetapi masalahnya di sini adalah hati yang beriman akan mendorong seseorang untuk memberikan yang terbaik buat Tuhan.

Namun Ketika Tuhan mengindahkan korban bakaran Habel dan menolak korban bakaran Kain yang artinya Tuhan lebih mengasihi Habel dari Kain barulah Kain kebakaran jenggot dan ia menjadi iri hati dan marah. Ia yang merasa teratas ingin juga teratas di hadapan Tuhan. Akibatnya terjadilah pembunuhan itu. Pilih kasih adalah kesalahan keluarga Adam yang menyebabkan keluarga ini tidak maksimal, tidak harmonis dan penuh dengan air mata.   Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda suka membedakan anak yang pintar dengan bodoh?  Anak yang penurut dengan pemberontak? Anak yang tampan dan kurang tampan? Anak yang banyak uang dan suka kasih orang tua dengan yang tidak?  Berhati-hatilah, jangan ulangi kesalahan keluarga Adam.

Keempat, iri hati di antara sesama anak adalah hal yang sering kali terjadi terutama bila anak sudah meningkat remaja atau pemuda.  Karen Horney, salah seorang pakar psikologi dalam teorinya mengatakan seorang adik memiliki ambisi besar untuk menyaingi dan mengalahkan kakaknya dalam segala hal.  Ia akan memperoleh kepuasan yang besar bila ia dapat mengalahkan kakaknya.  Yang menjadi masalah di sini adalah bagaimana sebagai orang tua kita mengarahkan persaingan itu menjadi persaingan yang sehat yang memacu anak-anak kita berlomba-berlomba untuk menjadi yang terbaik.  Kita memberikan prinsip dasar utama bahwa yang terpenting adalah sukses di mata Tuhan bukan di mata manusia.  Bila kita mengaminkan bahwa Tuhan senang dengan kesuksesanmu maka itu adalah keberhasilan yang sejati.

Jadi tanamkan dasar pada anak kita bahwa bukan kata manusia sebagai ukuran kesuksesan, bukan materi yang sementara, tapi Tuhan sebagai ukuran suksesnya. Bila kita jadi juara kelas, apakah Tuhan lebih dipermuliakan atau diri sendiri? Apabila kita ada uang lebih apakah rohani ini semakin dekat dengan Tuhan atau semakin jauh? Bila kelebihan materi yang membawa kita tetap dekat dengan-Nya adalah menandakan bahwa sukses itu bersumber dari Tuhan bila sebaliknya, iblislah yang memberikan kesuksesan itu agar kita jatuh dalam dosa. Bila Tuhan yang menjadi standar ukuran hasilnya mereka bersaing dalam roh dan tentu itu menyenangkan hati Tuhan dan orang tuanya. Hasilnya tidak akan ada iri hati, kedengkian, amarah sebab Tuhan yang memegang kendali anak-anak kita. Hasilnya, yang kalah memberi selamat kepada yang menang dan yang menang tidak menjadi sombong atau menyepelekan yang kalah. Yang menang di sini tentu tidak berarti sang adik tetapi mereka yang lebih banyak bergumul dengan Tuhan dalam meraih kesuksesan hidupnya.

Bagikan Informasi ini

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Informasi Terbaru

Pujian Allah itu Kasih

ALLAH ITU KASIH NamaMu s’lalu kusebutkan Di dalam doaku, dengan penuh penyembahan KasihMu s’nantiasa kukenang Dalam pujianku, dengan kerinduan Kurindu,…dunia pun merasakan Kasih yang kurasakan

Selengkapnya »