Kasih yang ajaib
Pst. Max Chandra

Dalam ajaran Kristen bicara kasih ialah kasih yang kekal.  Kasih kekal berasal dari Allah yang kekal pencipta langit dan bumi. Dia sudah ada sebelum segala-galanya ada. Dia berada di dalam kekekalan. Berapa lamakah kekekalan itu? Kalo satu triliun 12 nolnya, kekal itu nolnya panjangnya lebih panjang dari Sabang sampai Merauke. Dengan kata lain tidak terhingga.

Allah yang berada dalam kekekalan menciptakan alam yang terbuat dari tiga unsur. Materi, ruang dan waktu. Allah yang kekal masuk ke dalam ruang dan waktu bertemu dengan manusia.

Allah di dalam kekekalan tidak sendirian, Allah Bapa sudah mengasihi Yesus dan Roh Kudus, Yesus juga mengasihi Bapa dan Roh Kudus, tiga pribadi Allah saling mengasihi, inilah sumber kasih yang murni. Maka tiga pribadi Allah yang Esa itu berdiskusi : marilah kita menciptakan manusia seturut gambar Kita. Kemudian Allah  menciptakan manusia yang serupa gambar Allah supaya mereka bisa menikmati kasih Allah. Namun manusia jatuh ke dalam dosa, sejak itulah kasih Allah tidak dapat lagi dinikmati oleh Adam dan Hawa.

Kasih manusia yang sudah berdosa sudah berubah, namun Allah menebus manusia supaya dapat memiliki dan menikmati kasih Allah. Kasih Allah ini dalam dialami di bumi dan di surga. Kita akan mempelajari 5 tingkatan kasih manusia mulai dari kasih yang paling rendah sampai kasih Allah yang tidak bersyarat itu:

  1. Kasih egois. Mengapa disebut egois? Kasih ini mementingkan diri sendiri sudah dinodai oleh dosa, kalau perlu korbankan orang lain untuk memuaskan diri sendiri. Kasih yang hanya mengasihi orang yang bisa membawa keuntungan atau manfaat pada dirinya. Ketika istrinya atau suaminya sakit tidak berguna lagi sudah tua ada yang lebih baik maka diceraikan atau dimadu kawin lagi. Kawan yang sudah bangkrut akan ditinggalkan dan mencari kawan baru yang bisa dimanfaatkan.
  2. Kasih kekeluargaan. Kasih ini lebih baik dari kasih egois. Ibu mengasihi anak dan anak mengasihi ibu. Dalam kasih ini terkandung rasa tanggung jawab naluri keibuan dan anak karena mereka mempunyai hubungan darah. Tidak sedikit ayah dan ibu yang rela mati bagi anaknya. Anaknya mewarisi sebagian sifat yang ditanamkan sejak kecil, ada DNA-nya dalam diri anak itu. Mungkin wajahnya mirip, suaranya susah dibedakan, bahkan cara jalannya pun sama. Sehingga ada kelakar yang mengatakan “sejelek-jeleknya anak sendiri lebih jelek anak orang lain”
  3. Kasih suami-istri. Tidak sedikit perbedaan pendapat dalam hal ini. Bagi orang Tionghoa, orang tua lebih penting dari istri. Kita boleh mengatakannya dia itu mantan istri saya tetapi tidak mungkin mengatakan dia itu mantan ibu saya. Tidak sedikit ibu-ibu mengasihi anaknya berlebihan karena benci suaminya. Ada anak lebih disayang ayah ada anak lebih disayang ibu, terjadi blok dan partai-partai-an dalam rumah.
    Bagi orang muslim boleh menceraikan istri yang tidak menyenangkan, atau kawin lagi sampai 4 istri. Tidak jarang mereka menjadikan istri hanya sebagai alat pemuas bagi suami. Bagaimana dengan orang Kristen? Dalam kasih inilah keunikan dan keajaiban kasih Kristen. Bagi orang Kristen suami-istri seharusnya lebih utama dari hubungan orang tua anak. Kasih suami istri yang sejati adalah kasih di antara dua insan yang berlatar belakang berbeda, DNA berbeda, sifat berbeda, kebiasaan serta budaya yang berbeda namun karena kasih yang sejati dapat mempersatukan mereka. Atas keinginan dan pertimbangan yang matang mereka mengambil keputusan menjadi satu di dalam segala hal termasuk harta bendanya.
    Orang tua yang saling mengasihi pasti mempunyai anak yang baik, mereka menjadi contoh, anak-anak merasa aman, mereka dikasihi oleh ayah dan ibu.
    Kasih ini sudah diperintahkan oleh Allah sendiri sebelum Adam berdosa : “Laki-laki harus meninggalkan orang tuanya dan menjadi satu daging dengan istrinya.”  Yesus mengajarkan bahwa hubungan suami-istri seperti hubungan Yesus Kristus dengan jemaatnya. Yesus mengorbankan dirinya mati di kayu salib menebus jemaatnya demikian juga suami mengasihi istrinya sama seperti dirinya sendiri, bahkan rela berkorban bagi istrinya.
  4. Selain ini ada kasih kepada sesama. Yesus mengajarkan bahwa apa yang kita harapkan orang lain perbuat pada kita, perbuatlah itu kepada orang lain. Jika kita mengharapkan dihormati oleh orang lain, maka kita terlebih dahulu menghormatinya. Apakah orang lain itu juga akan menghormati kita bukan menjadi pertimbangan. Kita aktif mengasihi semua orang siapa pun dia.
    Kebanyakan orang berprinsip bahwa jika engkau baik kepada saya maka saya akan lebih baik padamu. Jika engkau jahat kepada saya maka saya akan lebih jahat kepadamu. Sikap ini adalah sikap yang pasif, menunggu orang lain bersikap dahulu, barulah memberi reaksi yang sama. Kasih yang diajarkan Yesus adalah kasih yang aktif, tidak peduli apakah orang yang kita kasihi itu membalas kasih kita atau tidak membalasnya.
  1. Kasih ajaib yang dapat mengasihi musuh sekalipun. Yesus mengajarkan kasihilah musuhmu dan doakanlah bagi mereka yang menganiaya kamu. Sepertinya ini adalah satu hal yang paling sulit di dalam dunia ini. Yesus bukan saja mengajarkan melalui perkataannya tetapi ketika Dia disalibkan, dalam kondisi yang paling menderita Dia berseru: “Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
    Inilah kasih yang kekal dari Allah yang kekal, yang hanya diajarkan Yesus melalui Alkitab. Tidak ada kasih yang lebih mulia dari kasih yang mengasihi musuhnya. Kasih Allah yang kekal itu ternyata dapat menjangkau musuh yang sedang menyakiti kita. Kasih-Nya ini menggerakkan penjahat yang disalib di samping Yesus dan mau mengikuti Yesus, juga kepala pasukan Romawi yang mendengar hal ini mengatakan: “Sesungguhnya Dia adalah Anak Allah.” Ketika Yesus disalib tidak terlihat mukjizat, tetapi dua orang mungkin lebih yang mendengar doa Yesus bertobat percaya kepada-Nya. Inilah penginjilan sejati!

Bagikan Informasi ini

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Informasi Terbaru

Buah Roh, Bagian I

Buah Roh, Bagian I Gal 5:22-23 “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang

Selengkapnya »