Hadiah dari Surga – Bagian II

Hadiah Dari Surga (2) – “Dapat Beribadah Kepada-Nya”
Pdt. Gideon Ang

Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10b)

Tuhan Yesus datang membawa kelepasan bagi manusia berdosa, itulah hadiah yang terbesar!

“Untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian- Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa, Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita.” Luk. 1:72-74.

Tuhan melawat umat-Nya dengan membawa kelepasan, dan menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita. Kedatangan Yesus Kristus adalah penggenapan janji Allah yang difirmankan- Nya kepada Israel melalui nabi-nabi Tuhan, Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan- Nya seumur hidup kita.Umat beribadah kepada Tuhan dengan tanpa takut adalah rencana Tuhan sejak bangsa Israel menjadi budak di Mesir. Tuhan mau menyelamatkan dan mengampuni dosa manusia. Umat Tuhan adalah semua orang yang telah percaya kepada Yesus Kristus dan menerima pengampunan-Nya, disucikan dan dibenarkan, sehingga kini dapat beribadah di hadapan Tuhan dengan hati bersih. Mari mengingat:

  • Yesus Kristus datang untuk menghancurkan kuasa iblis. Dengan pengorbanan-Nya di kayu salib, Tuhan mengalahkan maut dan mematahkan kuasa dosa (I Kor. 15:55-57).
  • Dengan kuasa-Nya Kristus menyingkirkan segala sesuatu yang dapat menjauhkan kita dari kasih Allah. Dia menyingkirkan usaha-usaha iblis untuk berkuasa atas umat pilihan Allah melalui dosa (I Yoh. 3:6,7). Karena itu, siapa pun yang percaya kepada Tuhan Yesus dapat menolak berbuat dosa. Ia dapat beribadah kepada Tuhan dengan tanpa ketakutan dihukum, karena sudah dikuduskan dan dibenarkan oleh

Kisah sejati D.L. Moody ketika melayani di daerah pertambangan:

Suatu ketika D.L. Moody sedang mengadakan kebaktian kebangunan rohani di Wharnecliff, sebuah daerah pertambangan batu bara di Inggris. Seseorang mendatanginya dan berkata, “Apakah bapak tahu siapa yang akan datang di pertemuan malam ini?” “Tidak, “ jawab Moody. Orang itu lalu menyebutkan sebuah nama yang tidak asing lagi saat itu. Nama dari seorang pekerja tambang yang dikenal paling jahat dan kejam di daerah pertambangan. Orang itu segera melanjutkan

ceritanya, “Ia akan datang ke ibadah ini dan mengatakan bahwa khotbah bapak tidak benar! Bapak hanya berkhotbah tentang kasih Yesus, dan perkataan itu tidak artinya bagi pekerja tambang yang suka mabuk ini. Bapak harus bisa membuat dia takut, misalnya adanya neraka…”

Moody menjawab, bahwa ia percaya tentang adanya neraka, lubang dalam yang menyala- nyala, dengan api yang tidak kunjung padam. Tetapi Moody juga percaya bahwa magnet yang mampu menjangkau manusia jahat yang harusnya dihukum di lubang neraka adalah kasih Yesus.

Dan benar, malam berikutnya pekerja tambang yang paling jahat itu datang ke kebaktian yang dipimpin Pdt. Moody. Ia datang langsung dari tambang batu bara. Mengenakan pakaian yang sangat kasar dan kotor, dia tidak mencuci muka dan tangan lebih dulu, dan dia duduk dalam keadaan mabuk di salah satu kursi yang sebenarnya disediakan untuk anak-anak. Khotbah malam itu semata- mata mengenai kasih Yesus Kristus. Pekerja tambang yang jahat itu semula tidak mau peduli, tetapi lama kelamaan dia mulai mendengar dengan perhatian. Lalu ia mulai mengusap-usap matanya yang basah dengan lengan bajunya yang kasar. Ketika beberapa pengurus kebaktian mulai mendoakan para peserta kebaktian, tiba-tiba pekerja tambang yang jahat itu berseru, “Ya Tuhan, selamatkan aku, aku sudah terhilang! Yesus, kasihanilah aku!” Moody dan pengurus pun mendoakan dia dan mengajaknya menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamatnya. Setelah itu dalam kegelapan malam, pekerja tambang itu pulang ke rumahnya.

Beberapa hari kemudian, istri pekerja tambang itu bercerita kepada Pdt. Moody, apa yang terjadi ketika suaminya pulang. Anak-anak mereka yang masih kecil mendengar ayahnya pulang – mereka mengenali langkah sepatunya yang keras. Anak-anak itu segera berlari bersembunyi di mana saja di rumah itu dengan ketakutan. Ayah yang jahat itu biasanya pulang dengan membanting pintu dan marah. Kadang dalam keadaan mabuk, ia memukuli istri dan anak-anak.

Kali ini, ketika pekerja tambang itu pulang, ia tidak membanting pintu. Sebaliknya ia membuka pintu dengan sepelan mungkin, dan masuk ke rumah. Ia melihat istri dan anak-anaknya sedang ketakutan, ia menghampiri mereka. Ia menggendong putrinya yang bungsu. Dengan air mata mengaliri pipinya, ia mengatakan, “Mary, Allah telah mengirim ayahmu pulang kepadamu…” Satu persatu ia datangi, dan diciumnya mereka semua. Kemudian ia merangkul istrinya, “Jangan menangis sayang. Tuhan sudah mengutus suamimu kembali ke rumah sekarang. Jangan menangis lagi.” Istrinya hanya bisa memeluknya dan menangis. Si pekerja tambang ini berkata, “Apakah kita memiliki Alkitab?” Ternyata mereka tidak mempunyai Alkitab. Lalu ia berkata, “Kalau begitu, mari kita berdoa. Yang dia doakan adalah, “Yesus yang lembut dan baik hati, pandanglah aku yang kecil ini, kasihanilah aku yang tidak tahu apa-apa. Demi nama Yesus Kristus – Amin.”

Doanya sederhana, tetapi Allah menjawabnya. Ketika Moody sudah pergi ke kota lain, seorang kawan memberitahukan, bahwa ada berita yang sangat bagus! Pekerja tambang yang paling jahat itu sudah bertobat, kini dia menjadi orang yang baik dan datang beribadah. Ia terus memberikan Injil di mana pun ia berada, baik ketika bekerja dalam pertambangan, maupun di luar pertambangan. Ia berusaha membawa semua orang kepada Yesus Kristus.

Sudahkah kasih Yesus Kristus membebaskan kita dari dosa? Sehingga kita dapat beribadah dengan sukacita dan tanpa takut?

 

Bagikan Informasi ini

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Informasi Terbaru

Doa Yabes

Bahan Nats: I Taw. 4:9-10 Suryanto Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: “Aku telah melahirkan dia dengan

Selengkapnya »

Hakikat Gereja

Apa sebenarnya hakikat “Gereja” (berdasarkan 1 Timotius 3:14-16) Sebuah Perenungan Pdt. Joni Stephen Dalam perikop yang singkat ini Paulus memberikan 3 gambaran tentang gereja. Marilah

Selengkapnya »