Berani Bersaksi

Berani Bersaksi (II Timotius 1:3-8)
Pdt. Gideon Ang

Ayat Mas : II Timotius 1:7,8, 13,14

Ada gereja yang menetapkan bulan September sebagai bulan misi. Sepanjang September ini kita akan diajak untuk merenungkan dan melaksanakan tentang bagaimana kita bisa menjalankan misi Kerajaan Allah, yakni menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat.

Surat ke 2 dari Timotius ini merupakan surat terakhir dari rasul Paulus yang ditulisnya sewaktu di penjara, bahkan menjelang ia meninggal dunia menjadi martir bagi Kristus. Surat ini ditujukan kepada Timotius, yang sering gentar, sebagai persiapan pelayanan menjelang hari-hari terakhir yang mendekat.

Suatu pertanyaan penting bagi kita dalam konteks bacaan Alkitab kita hari ini adalah : Beranikah kita bersaksi?

Warren Wiersbe, dalam ulasannya di surat Timotius ini, menuliskan ada beberapa “musuh” yang membuat kita takut bersaksi :

  • II Timotius 1:4, ketakutan, Timotius takut karena di sekitarnya terdapat banyak ajaran lain.
  • II Timotius 1:6 melalaikan karunia yang ada pada kita
  • II Timotius 1:7 roh ketakutan
  • II Timotius 1:8,12 malu bersaksi
  • II Timotius 1:13,14 ‘carelesness’, tidak berhati-hati dan tidak memegang ajaran

Apa yang membuat kita takut bersaksi ? Sudahkah kita mengenal dan mendalami ajaran gereja Injili. Mari mempelajari kembali prinsip gereja Injili :

  1. Biblicism, Alkitab adalah pegangan iman kita, juga pegangan moral dan kehidupan kita.
  2. Conversionism, pertobatan, Firman Tuhan mengubah hidup kita.
  3. Activism, kita aktif menjalankan Firman Tuhan (termasuk menjalankan misi).
  4. Cruxicentrism, penebusan kayu salib adalah pusat ajaran dan pelayanan kita.

Bagian Firman Tuhan yang kita baca ini menjelaskan bagaimana kita dapat menjadi orang Kristen yang berani, ‘to be a courageous Christian’ :

  1. ‘Courageous enthusiasm’ ayat 1-7, kita memiliki semangat yang berani. Keberanian Timotius berdasarkan dari kasih Paulus sebagai bapak rohaninya (ayat 2,4) yang selalu mendoakannya (ayat 3) dan mempercayainya (ayat 5), serta karunia Allah yang diberikan padanya (ayat 6,7)
  2. ‘Shameless suffering’ : kita tidak malu untuk menderita
  3. ‘Spiritual loyalty’ : kita mau setia karena Firman Tuhan yang berakar dalam diri kita

Ketika kita belajar untuk bersaksi mengabarkan Injil Kristus dalam kehidupan sehari-hari, mari kita belajar mengambil refleksi dari pengkhotbah KKR Billy Graham, ia menegaskan mengapa ia selalu berani, ia tidak malu dan ia selalu setia berkhotbah mengabarkan Injil Kristus, ini karena didorong oleh 3 hal berikut :

  1. Percaya bahwa setiap manusia mempunyai kebutuhan rohani (bukan saja kebutuhan materi). Kebutuhan rohani manusia selalu ada meskipun disembunyikan, ini dapat dilihat bahwa :
  • manusia secara sadar ataupun bawah sadar selalu takut mati
  • manusia juga dikejar rasa bersalah, karena semua manusia orang berdosa
  • manusia sering kesepian (orang berdosa selalu merasa sendiri dan sepi)
  • manusia selalu merindukan kasih yang sejati
  1. Hanya Yesus Kristus satu-satunya yang dapat memenuhi kebutuhan rohani itu, mungkin ada hal-hal lain yang dapat memuaskan hati manusia tetapi hanya bersifat sementara. Hanya Kristus yang dapat memuaskan dan memenuhi kebutuhan hati manusia dengan tuntas.
  1. “Saya adalah utusan Kristus“, Allah memanggil kita untuk menjadi utusan-Nya karena kita sudah mengalami penebusan dan kasih-Nya yang ajaib.

Mari berani beraksi ! Karena hal ini benar, ini menjalankan Firman Tuhan!

Kasih Allah yang sudah kita terima adalah pendorongnya, dan Roh Kudus yang mendiami hati kita selalu mengingatkan kita untuk berani bersaksi, mengabarkan Injil Kristus di mana pun kita berada.

Pertanyaan untuk sharing dan saling mendoakan dengan kelompok Anda :

  • Sharingkan, sudahkah anda berani bersaksi? Bagaimana pengalaman kesaksian Anda ketika memberitakan Injil Kristus?
  • Bila belum berani bersaksi, ingatlah bahwa Tuhan telah memberikan roh keberanian (bukan roh ketakutan), kekuatan dan kasih untuk anda bersaksi. Bertekadlah dengan saling mendoakan dan mendukung untuk menjadi saksi Kristus
  • Doakan beberapa nama yang akan diinjili, yang selama ini menjadi beban saudara (misalnya suami/isteri, papa mama, anak/menantu, family atau teman dekat yang belum percaya Tuhan.

Teriring doa dan berkat,
Pdt. Gideon Ang

Bagikan Informasi ini

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Informasi Terbaru